Minggu, 04 Juli 2021

MUSEUM MBAH SURO

 

                                                                                   Sawahlunto, 27 Juni 2021


MUSEUM MBAH SURO


Sawahlunto adalah merupakan salah satu kota di Sumatera Barat yang sering aku lewati jika pulang ke kampung halaman ku. Namun secara khusus belum pernah aku singgah untuk menikmati keindahan dan sejarah kota ini. Kali ini aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana dengan membawa keluarga dan anak-anak agar mereka juga tau tentang sejarah yang ada di kota ini.

Tujuan awal yang ingin aku kunjungi sebenarnya adalah museum kereta api, karena tempat inilah yang sudah sering aku dengar dikunjungi oleh para wisatawan. Sebelum sampai di museum tersebut aku melihat plang penunjuk arah bertuliskan museum Mbah Suro. Aku malah jadi penasaran setelah membaca tulisan di plang tersebut, karena nama Mbah Suro biasanya adalah panggilan untuk orang tua suku Jawa, tapi kok ada museumnya di Sumatera Barat.

Dari rasa penasaran tersebut akhirnya aku dan keluarga sepakat untuk berkunjung ke museum Mbah Suro tersebut. Tapi yang membuat aku lebih penasaran adalah lubang tambangnya. Begitu sampai di lokasi aku malah kebingungan karena jalan yang pas-pasan untuk mobil dan bahkan seperti tidak ada tempat parkir karena di kiri dan kanan jalan adalah rumah penduduk, membuat aku sedikit bertanya-tanya dalam hati,"bagaimana cara untuk masuk ke sana?". Akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk ke gedung museum tersebut untuk bertanya. Ternyata di dalam ada pegawai museum yang siap melayani dan memandu para pengunjung untuk dapat masuk ke dalam lubang tambang Mbah Suro dan pengunjung boleh parkir dimana saja karena tempat di sekitar museum sudah menjadi wilayah museum semua.

Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 10.000 perorang, aku dan keluarga dibawa oleh pemandu museum untuk melihat peninggalan sejarah berupa rantai yang digunakan oleh kolonial Belanda untuk mengikat kaki para pekerja tambang batu bara di sini. Ya, Sawahlunto adalah merupakan situs tambang batu bara tertua di Asia Tenggara yang terletak di lembah sempit di sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Lubang bekas tambang batu bara Mbah Suro menyimpan sejarah kelam tentang orang rantai.

Orang rantai adalah sebutan bagi para pekerja tambang di Sawahlunto. Mereka dikirim dari berbagai daerah di Hindia Belanda termasuk Batavia. Mereka adalah pesakitan yakni tahanan kriminal atau politik dari wilayah Jawa, Bali dan Sumatera. Mereka dibawa ke Sawahlunto dengan kaki, tangan, dan leher diikat rantai. Mereka dipaksa bekerja sebagai kuli tambang batu bara dengan kondisi kaki, tangan, dan leher yang masih dirantai tanpa di upah dan bahkan tidak dikasih makan.


Setelah menjelaskan tentang orang rantai, aku dan keluarga baru diperkenankan untuk memasuki lubang bekas tambang Mbah Suro dengan terlebih dahulu kami dipersilahkan untuk memakai sepatu dan topi sebagai pengaman ketika berada di dalam lubang nantinya. Sebelum memasuki lubang kami diperkenankan untuk berfoto di depan lubang dan dilanjutkan dengan memanjatkan doa bagi para korban pekerja paksa yang terkubur di dalam lubang. Lubang ini memiliki lebar 2 meter dengan ketinggian 2 meter juga. Sementara kedalaman Lubang Mbah Suro mencapai 15 meter dari permukaan tanah, serta memiliki panjang 1,5 kilometer di bawah Kota Sawah Lunto. Walaupun demikian lubang ini cukup aman bagi pengunjung karena telah dilengkapi dengan oksigen di sepanjang lubang.


Ada beberapa lorong di dalam lubang yang ditutup sementara karena lebih banyak berdampak negatif kepada para pengunjung seperti kesurupan, dan sakit setelah melihat lorong tersebut. Semakin jauh berjalan kami semakin penasaran dengan penamaan lubang ini. Akhirnya sampailah kami pada satu lorong dan kami berhenti tepat di depan lorong tersebut. Di sana tampak dengan jelas tulisan Mbah Suro dan pemandu langsung menjelaskan bahwa Mbah Suro adalah merupakan seorang mandor orang rantai. Beliau memilki nama lengkap Soerono yang terkenal memiliki ilmu kebal dan ilmu kebatinan yang sangat tinggi sehingga menjadi panutan serta disegani oleh warga sekitar. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh kolonial Belanda agar Mbah Suro dapat bekerja siang dan malam tanpa merasakan lelah.

Mbah Suro dengan senang hati menerima pekerjaan tersebut karena beliau memiliki niat yang sangat mulia yaitu ingin membebaskan para orang rantai yang dipaksa bekerja oleh Belanda dengan kekuasaan dan ilmu yang dimilikinya. Karena keteladanan dan kemuliaan sikap Mbah Suro tersebut maka nama beliau diabadikan untuk nama lubang tempat beliau dan para orang rantai bekerja. Mbah Suro meninggal sebelum tahun 1930 dan ia dimakamkan di pemakaman orang rantai yakni di Tanjung Sari, Kota Sawahlunto.


Penjelasan dari pemandu membuat rasa penasaran kami hilang, dan kami mulai bergerak keluar lubang menuju ke museum kembali. Semoga arwah para pekerja paksa mendapat tempat yang terbaik di sisi Yang Maha Kuasa, Aamiiin....


2 komentar:

  1. wahh, bagus sekali ceritanya 😍Setelah membaca cerita ini, saya jadi tau tentang sejarah di sawahlunto

    BalasHapus
  2. Keren sekali ceritanya Bu,ditunggu episode selanjutnya ya Bu 😍

    BalasHapus

Aksi Nyata- Modul 1.4 Pembentukan dan Penerapan Keyakinan Kelas

 A.  Latar Belakang Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berkarakter Prof...